"ISU KONTEMPORER (RELEVANSI NILAI TIMUR DALAM MENGHADAPI KRISIS LINGKUNGAN DAN MODERNITAS)."
Kata Kunci:
Filsafat Timur, Modernitas, Krisis Lingkungan, Taoisme, Buddhisme, Hinduisme, Etika Ekologis, KeberlanjutanAbstrak
Menjelang tahun 2026, krisis lingkungan global semakin menunjukkan bahwa persoalan ekologis tidak hanya disebabkan oleh kesalahan pengelolaan sumber daya alam, tetapi juga oleh paradigma modern yang memandang alam sebagai objek eksploitasi demi kepentingan ekonomi dan teknologi. Melalui penelitian kualitatif berbasis studi kepustakaan, ditemukan bahwa filsafat Timur menawarkan alternatif cara pandang yang lebih harmonis antara manusia dan alam. Taoisme menekankan keselarasan dengan hukum alam, Buddhisme mengajarkan kesadaran akan saling ketergantungan seluruh makhluk serta pola hidup yang moderat, sedangkan Hinduisme menegaskan pentingnya penghormatan terhadap alam sebagai tanggung jawab etis dan spiritual. Meskipun penerapannya menghadapi tantangan seperti perkembangan teknologi, komersialisasi spiritualitas, dan dominasi pendekatan teknokratis, nilai-nilai harmoni, kesederhanaan, dan penghormatan terhadap alam yang terkandung dalam filsafat Timur tetap relevan sebagai landasan etika ekologis untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan dan memperkuat kesadaran lingkungan di abad ke-21.
As 2026 approaches, the global environmental crisis increasingly demonstrates that ecological problems are not only caused by poor natural resource management, but also by a modern paradigm that views nature as an object of exploitation for economic and technological interests. Through qualitative research based on a literature study, it was found that Eastern philosophy offers an alternative perspective that promotes a more harmonious relationship between humans and nature. Taoism emphasizes harmony with the laws of nature, Buddhism teaches awareness of the interdependence of all beings and encourages a moderate way of life, while Hinduism stresses the importance of respecting nature as an ethical and spiritual responsibility. Although its implementation faces challenges such as technological development, the commercialization of spirituality, and the dominance of technocratic approaches, the values of harmony, simplicity, and respect for nature embedded in Eastern philosophy remain relevant as a foundation for ecological ethics in achieving sustainable development and strengthening environmental awareness in the 21st century.




