“RESISTENSI QUR'ANI TERHADAP KONSUMERISME DIGITAL GENERASI Z: LARANGAN TABŻĪR DAN IṢRĀF DALAM SURAH AL-ISRĀ': 26-27”
Kata Kunci:
Konsumerisme, Generasi Z, Tabzir, IsrafAbstrak
Fenomena konsumerisme digital yang berkembang pesat di era media sosial menjadikan Generasi Z sebagai kelompok yang rentan terhadap perilaku konsumsi berlebihan, baik dalam aspek material maupun nonmaterial. Konsumerisme digital tidak hanya berdampak pada pemborosan finansial, tetapi juga meliputi pemborosan waktu, energi, dan kesehatan mental yang dipicu oleh algoritma platform digital, budaya FOMO, serta tekanan citra diri di ruang virtual. Dalam konteks ini, Al-Qur’an menawarkan kerangka etika konsumsi yang berlandaskan prinsip moderasi dan tanggung jawab, sebagaimana tercermin dalam larangan tabżīr dan iṣrāf pada QS. Al-Isrā’ [17]: 26–27. Penelitian ini bertujuan untuk merekonstruksi makna tabżīr dan iṣrāf agar relevan dengan realitas konsumerisme digital Generasi Z serta merumuskan etika konsumsi sebagai bentuk resistensi Qur’ani terhadap budaya konsumtif. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan tafsir tematik (maudhu‘i) dan analisis konten terhadap fenomena konsumsi digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tabżīr dan iṣrāf tidak hanya terbatas pada pemborosan harta secara konvensional, tetapi juga mencakup pemborosan digital seperti konsumsi impulsif, penggunaan media sosial yang berlebihan, serta pengeluaran pada barang dan layanan digital yang tidak esensial. Rekonstruksi etika konsumsi Qur’ani ditawarkan melalui penguatan prinsip takwa sebagai pengendali internal, penerapan moderasi berbasis digital budgeting, serta pengaktualisasian konsep infaq sebagai kontra ideologis terhadap konsumerisme. Dengan demikian, QS. Al-Isrā’ [17]: 26–27 relevan dijadikan landasan etis untuk membangun gaya hidup digital Generasi Z yang moderat, bertanggung jawab, dan berorientasi pada kemaslahatan dunia dan akhirat




